“Dua dekad kemudian kubuka pintu kalbuku kata-kata puitisku bertukar jadi debu.” — Ridzuan Harun Copy Share Image
“Pincang langkah pertama barangkali kelemahan pincang berulang lambang kebebalan.” — Sahrunizam Abdul Talib Copy Share Image
“Hayat bahasa di akal bangsanya ajal bahasa di keris bangsanya.” — Sahrunizam Abdul Talib Copy Share Image
“Pada telapak tangan kubuka sebuku nasib dan membaca makna isyarat alam-Nya.” — Ridzuan Harun Copy Share Image
“ke Lethe, murung penuh hantu memandang bintang dan neraka menjemur mereka dan aku.” — Bagus Dwi Hananto Copy Share Image
“Laksana setitik embun nafas melekat di daun. Daun itulah jasad engkau. (Mengharap)” — Darma Mohammad Copy Share Image
“Butiran gula larut dalam kopi hitam Taburan bintang larut dalam kelam malam Pahit manis kenangan teraduk Kuhirup semalam suntuk” — Sam Haidy Copy Share Image
“Mungkin seseorang masih tak tahu lirih perih dalam rintik rindu ini. Selamat malam, kamu yg berlalu dalam gerimis.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Segunung gagah tersungkur kalah selangit mewah tersembam musnah tatkala kesiapsiagaan dicumbui leka. (Parasit 3)” — Ramlan Abd. Wahab Copy Share Image
“Diam meredam seloroh bodoh mulut berkabut Sunyi menyanyi, aku terpaku, kamu jemu Cinta terlunta buta kata” — Sam Haidy Copy Share Image
“Di hadapan laut-Mu terasa kecamukku lebur duka yang kubebat itu beratnya cuma senipis angin.” — Ridzuan Harun Copy Share Image
“Jangan salahkan waktu Jika kelak ia mengkhianatimu Setiap detik yang kau ulur Akan mencekikmu di sisa umur” — Sam Haidy Copy Share Image
“Kini aku selalu memberi jarak antara kamu dan puisi. Puisi telah menumbuhkan sayapsayap di punggungku untuk lebih dekat padaNya.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Kamu bilang cinta adalah baitbait paling purnama dalam hidup ini. Selamat malam, kamu yg gigil dalam puisi...” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Jika tak ada puisi hari ini, akan kuisi puisi haru hari ini dengan wajah paling murung di muka bumi. Sampai ia jatuh… — Alfin Rizal Copy Share Image
“Kekasih, mereka datang padamu Sebab menjemput senyum dan paras cantikmu, atau sebab harapan lain pada kemesraanmu, Sedang aku; tak mengenal sebab semacam… — Alfin Rizal Copy Share Image
“Aku ingin bertanya gembirakah kau di sana? Melihat wilayah faqihmu pegangan ulama gilakan kuasa Fuqaha kau maksudkan bukan ulama buatan sekarang Yang… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup… — Goenawan Mohamad Copy Share Image
“Ilmuan tiruan seperti puyuh mencuri paruh dan sayap helang Ijazah berjela, kajian merata, kerusi diduduki tidak terbilang. Bagi penguasa dan pentadbir yang… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“tak ubah nya hantu di keramaian, tatapannya, seolah berkata ; Setiap perlakuan, ada harga yang harus di bayar anak adam Walau tuntas… — andra dobing Copy Share Image
“Kata-kata di muka kertas beratnya hakiki Tersimpan khazanah Ilahi dan mutiara insani Jika digali-gilap disimpul makna dalam dada Jika diserap pada ribuan… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Ilmu di peringkat maknawi dan yaqini Kawanku, bukan lagi nisbi ciptaan basyari Anugerah Rabbul Jalil, harus disyukuri, dinikmati Dan amalkan sepenuh hati,… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Imaji-ku. Cermin dari malam. Sepasang bola mata hitam menyelinap diriku. Terpaan angin menghela pelan menyentuh kulit epidermisku. Kau hinggap dalam ruang-ruang penuh… — silviamnque Copy Share Image
“Kembali menggelora akan nestapa Biarlah tenggelam namun yakinku tak pernah berubah padamu Saat bulan tersenyum menegur sapa menampakkan diri saat hangat mulai… — silviamnque Copy Share Image
“Musang diangkat menjaga reban Reban hancur ternakan terkorban! Belalang angkuh berlagak helang Tikus berkampung dalam taman!” — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Adakah yang lebih menggetarkan Dari sepasang pandang Yang saling silau tapi saling mencari?” — Sam Haidy Copy Share Image
“Malam adalah ladang pembantaian abadi Jiwa-jiwa tandus yang digerus sepi Yang tak menyisakan apa-apa selain puisi” — Sam Haidy Copy Share Image
“Doa ku seakan paku di peti mati mu. Tajam mendalam. Menembus dadamu, menjelma dunia rapuh, penuh kegelisahan tak berarti . . #andradobing” — andra dobing Copy Share Image
“Ketinggian pokok, hanya diketahui helang Puyuh tidak mampu terbang, hanya tahu dalamnya hutan.” — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Seseorang memberiku gaun puisi. "Pakailah,"katanya."Kau tak kan jenuh lagi." Tetiba cuaca mesra, matari biru, aku menapak di atas laut.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Sebuah puisi adalah suatu pengalaman kehidupan yang terungkap - betapapun sukar dalam kesakitan; dan dalam kesempatan.” — Leo AWS Copy Share Image
“Hanya pantai yang mampu membaca Pasang surut hatinya Hanya laut yang mampu mengeja Rasa air matanya” — Sam Haidy Copy Share Image
“Masyarakat terbelakang Memperdebatkan keyakinan Masyarakat terdepan Meyakini perdebatan” — Sam Haidy Copy Share Image
“Mencintaimu Seperti mencintai bayi yang belum sempurna melihat Tak tahu pasti apa yang kau tangkap dalam geliat Namun tak jemu kuselami rona… — Sam Haidy Copy Share Image
“Pagi menyelinap di jemarimu sebagai sepi yang selalu ditangkap puisi, mengabadikan sepasang jejak yang sembunyi” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Kerana kutahu dendam hanyalah marah yang sekejap direndamkan Tetapi akan membunuhku dengan diam dan perlahan” — Anonymous Copy Share Image