“Di sini ada hukum. Kalau hukum tidak ditaati lagi, mari, mari kita panggil hakim.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Fina bara kurang ajar sama Ngama. Jangan kurang ajar sama Ngama. Hormati suamimu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Orang berilmu, berpengetahuan, dan berbakat itu tak boleh punah.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain?” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bukang perempuang undang harta, Ngama, hanya harta mencari perempuang.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Di dunia ini, Ara, hanya sedikit saja orang yang penting - Mardjohan.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Tak ada yang tahu apakah prajurit-prajurit itu Syiwa atau Wisynu, boleh jadi bahkan Buddha. Tidak ada yang mengetahui hati manusia secara tepat.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kita akan belajar Tanca. Kemudian kita akan tahu lebih banyak, mengalahkan lebih gemilang.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ruapanya orang gunung hanya bercawat setiap hari. Mereka baru berpakaian bila ada tamu atau pada kesempatan-kesempatan terentu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Adat perempuan dibeli; adat orang tua menjual; kalau harta sudah di tangan apalagi akan dipersoalkan?” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatakan pada seseorang atau pada siapapun” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Dunia luar tak ada yang tahu tentang mereka, tak ada yang memperhatikan nasib mereka,” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kami bermaksud baik Ngama. Ngama adat jangan sangsi. Kami ingin menolong yang sakit.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatan pada seseorang atau pada siapapun.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Seluruh kedudukan enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi. Rencana-rencanaku kandas di laci-laci. Angkatan tua itu sungguh bobrok! Setiap republiken mestinya… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi... angkatan tua itu sungguh bobrok. Hanya angkatan tua yahg korup dan… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ngama Adat, heee, Polli sama Mantir ingin tolong," ujar Mana Sambur. "Ha? Apa tidak tahu adat?" Bentak si Kakek. "Tidak lihat yako… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu bagaimana sebaiknya menerima tamu. Ia akan mengambil celana untuk menghormati kami. (Orang-orang gunung ito bodo, tapi kase hormat. Yako punya hati ingin hormat) - Bambu, Seorang Alfuru Di Wai Loa” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Mengapa membuka ladang sejauh ini? Kalau deka(t) kampon(g) habis dimakan(g) babi sendiri. Di sini babi hutan(g) yang ditunggu. Orang kampon(g) bikin ladan(g)… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ada diajarkan oleh kaum Brahmana, orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Persaudaraan yang diikat oleh sesuatu. Dengan ikatan itu mereka saling menjaga, saling membantu bila ada keperluan, merupakan saudara seperti satu keluarga sendiri,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Perempuan itu harta, musti turut lelaki punya mau - Siti F. Yang Ditemui Di Pulau Buru” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kau biarkan suamiku merampas istri orang; itu berarti kau ikut membangunkan kejahatan, kerusuhan, dan malapetaka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Revolusi ini tidak memberi sesuatu pun, dia minta kepada setiap orang, segala-galanya.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Mereka (brahmana) tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bila ada Pamali turun, barang atau pakaian peninggalan orang mati dikumpulkan dan diletakan di gebrahe” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Di atas pelupuh humatita orang damai dalam tidurnya, suami-istri berpelukan, anak-anak berserak tanpa baju tanpa celana. Hanya asap dan asap selimut mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bagi wanita muda, Mas Nganten, sebenarnya tak ada kesulitan hidup di dunia, apalagi kalau ia canti, dan rodi sudah tak ada lagi.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Adat itu bikin orang jadi bodo. Adat larang orang kampung belajar menulis, membaca, bikin gambar.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Teror merupakan sistem untuk menundukan rakyat, sedang kerakusan berlebihan menjadi tujuan dari pendudukan itu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ruapanya orang gunung hanya bercawat setiap hari. Mereka baru berpakaian bila ada tamu atau pada kesempatan-kesempatan terentu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“How simple life is. It's as simple as this: you're hungry and you eat, you're full and you shit. Between eating and shitting, that's… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
The fracture of pencil still useful, but the fracture of soul, we couldn't use it, Mister. — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Fina bara kurang ajar sama Ngama. Jangan kurang ajar sama Ngama. Hormati suamimu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“. . . Kau terpelajar, Minke, Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. . . .” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Masa lalu tak perlu jadi beban, bila tak sudi jadi pembantu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image