“Ruapanya orang gunung hanya bercawat setiap hari. Mereka baru berpakaian bila ada tamu atau pada kesempatan-kesempatan terentu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kau biarkan suamiku merampas istri orang; itu berarti kau ikut membangunkan kejahatan, kerusuhan, dan malapetaka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Dunia luar tak ada yang tahu tentang mereka, tak ada yang memperhatikan nasib mereka,” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bukang perempuang undang harta, Ngama, hanya harta mencari perempuang.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu bagaimana sebaiknya menerima tamu. Ia akan mengambil celana untuk menghormati kami. (Orang-orang gunung ito bodo,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Perempuan itu harta, musti turut lelaki punya mau - Siti F. Yang Ditemui Di Pulau Buru” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Persaudaraan yang diikat oleh sesuatu. Dengan ikatan itu mereka saling menjaga, saling membantu bila ada keperluan, merupakan saudara seperti satu keluarga sendiri,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Adat perempuan dibeli; adat orang tua menjual; kalau harta sudah di tangan apalagi akan dipersoalkan?” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Adat itu bikin orang jadi bodo. Adat larang orang kampung belajar menulis, membaca, bikin gambar.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bila ada Pamali turun, barang atau pakaian peninggalan orang mati dikumpulkan dan diletakan di gebrahe” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Mengapa membuka ladang sejauh ini? Kalau deka(t) kampon(g) habis dimakan(g) babi sendiri. Di sini babi hutan(g) yang ditunggu. Orang kampon(g) bikin ladan(g)… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ruapanya orang gunung hanya bercawat setiap hari. Mereka baru berpakaian bila ada tamu atau pada kesempatan-kesempatan terentu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“How simple life is. It's as simple as this: you're hungry and you eat, you're full and you shit. Between eating and shitting, that's… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
The fracture of pencil still useful, but the fracture of soul, we couldn't use it, Mister. — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Fina bara kurang ajar sama Ngama. Jangan kurang ajar sama Ngama. Hormati suamimu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“. . . Kau terpelajar, Minke, Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. . . .” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Masa lalu tak perlu jadi beban, bila tak sudi jadi pembantu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image