Liminal Quote by Titon Rahmawan
““Candi di Penghujung Ruh (Jenawi — Khajuraho) Tubuhku: batu yang merindu, belerang hitam tanpa tabuhan. Jenawi menggerus diriku kersani yang tak beriba, mengiris daging sepi menguliti tulang kenanganku. Asap dari tungku purba melilit dalam napas— meminjam suara jagat bawah. Di kejauhan, Khajuraho bergemerincing laksana leluhur bangkit, reliefnya membeku di dalam darah, menusuk di sela urat, mengubah hasrat menjadi beban dan beban menjadi sujud. Aku terbelah: setengah terbakar lantaran pamrih, setengah tenggelam lantaran lupa. Bukan cinta. Bukan kematian. Hanya bayang dewa yang tak memberi nama. Tanah di antara dua candi retak layaknya rahim tua: melahirkan suara tanpa asahan, meneteskan madu yang telah membatu, menciptakan lumut dari tangis yang tak kasat mata. Lidahku— bukan lagi lidah: gesekan besi yang tak mampu menyebut asalnya. Bibirku— bukan lagi bibir: pecahan arca yang kehilangan ruh. Engkau datang, bukan sebagai cahaya, bukan sebagai kematian, hanya penanda kedahsyatan yang menyusup laksana angin yang bukan angin. Aku hanya menyembunyikan serpihan hatiku di sela batumu, semoga ketika rembulan runtuh dalam jatuhnya, namaku kembali terperangah dalam ingatan yang tak memberi maaf. Dan jagat ini terbelah pelan-pelan layaknya kidung yang disembelih tapi tak mati-mati. Desember 2025””
About This Quote
Source Poem: Untitled, Desember 2025
The poem explores inner conflict, the weight of heritage, and the struggle between material desire and spiritual yearning, using vivid temple imagery.
In simple terms: Inner conflict between desire and spirituality.
Seek balance beyond material cravings.
Themes
Mood
Type
When to use this quote
- personal introspection
- creative writing
- cultural reflection
Key Concepts
Questions to Reflect On
- How do you reconcile personal desire with cultural legacy?
- What rituals help you transcend material burdens?
The abstract may obscure concrete action.