“Hayat bahasa di akal bangsanya ajal bahasa di keris bangsanya.” — Sahrunizam Abdul Talib Copy Share Image
“Kamu bilang cinta adalah baitbait paling purnama dalam hidup ini. Selamat malam, kamu yg gigil dalam puisi...” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Pincang langkah pertama barangkali kelemahan pincang berulang lambang kebebalan.” — Sahrunizam Abdul Talib Copy Share Image
“Kini aku selalu memberi jarak antara kamu dan puisi. Puisi telah menumbuhkan sayapsayap di punggungku untuk lebih dekat padaNya.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Segunung gagah tersungkur kalah selangit mewah tersembam musnah tatkala kesiapsiagaan dicumbui leka. (Parasit 3)” — Ramlan Abd. Wahab Copy Share Image
“Pengalaman membenarkan sangkaan biarpun sangkaan sering di kandang salah.” — Sahrunizam Abdul Talib Copy Share Image
“Diam meredam seloroh bodoh mulut berkabut Sunyi menyanyi, aku terpaku, kamu jemu Cinta terlunta buta kata” — Sam Haidy Copy Share Image
“Di hadapan laut-Mu terasa kecamukku lebur duka yang kubebat itu beratnya cuma senipis angin.” — Ridzuan Harun Copy Share Image
“Jangan salahkan waktu Jika kelak ia mengkhianatimu Setiap detik yang kau ulur Akan mencekikmu di sisa umur” — Sam Haidy Copy Share Image
“Sufi sebenar berpakaian biasa bangsanya, mengikut Nabi Pada zaman ini akan berseluar kemeja, sederhana sekali Namun dada berisi hikmah ladunni bukan hasil… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“kukalungkan jua sajak-sajak itu di leher bayanganmu dinda serupa sepi mengalungi kata-kata di kotaku yang mahatinta. kota dimana matamu, hatimu, senyummu, berpendar… — firman nofeki Copy Share Image
“Ilmuan tiruan seperti puyuh mencuri paruh dan sayap helang Ijazah berjela, kajian merata, kerusi diduduki tidak terbilang. Bagi penguasa dan pentadbir yang… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“kau bukan gula-gula kapas, yang bagiku cuma lembut, kau terlahir sebagai popkon, yang rangup dan manis, yang aku nikmati dalam gelap, menghadap… — Salleh Razak Copy Share Image
“Kekasih, mereka datang padamu Sebab menjemput senyum dan paras cantikmu, atau sebab harapan lain pada kemesraanmu, Sedang aku; tak mengenal sebab semacam… — Alfin Rizal Copy Share Image
“Jika tak ada puisi hari ini, akan kuisi puisi haru hari ini dengan wajah paling murung di muka bumi. Sampai ia jatuh… — Alfin Rizal Copy Share Image
“Siapakah yang lahir dari jari jemari puisi? Yang memetik waktu di taman kenangan? Kau hanya tersenyum menatapku sambil membujuk hurufhuruf itu untuk… — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Tak akan sempat nisan terpahat; ribuan nama memesan bersama-sama. Sementara, mayat-mayat yang belum berangkat, terbaring berselimut puing-puing... O, Tsunami, airmu bermuara di… — Sam Haidy Copy Share Image
“Imaji-ku. Cermin dari malam. Sepasang bola mata hitam menyelinap diriku. Terpaan angin menghela pelan menyentuh kulit epidermisku. Kau hinggap dalam ruang-ruang penuh… — silviamnque Copy Share Image
“Aku ingin bertanya gembirakah kau di sana? Melihat wilayah faqihmu pegangan ulama gilakan kuasa Fuqaha kau maksudkan bukan ulama buatan sekarang Yang… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup… — Goenawan Mohamad Copy Share Image
“Urafa bestari kerap berpesan: "ilmu fis sudur la fis sutur" Ilmu dalam dada membangunkan umat dari lena tidur Wajib menulis pada khalayak… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Aku sungguh bimbang kita akan terus begini Kerana puyuh pentadbir diangkat mengawal helang ilmi Tata-cara sekolah rendah diguna-pakai di universiti tinggi Kaedah… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Sufastaiyyah membunuh hujah sendiri Bila menolak mutlak ilmu milik insani Merosak akal, aqidah, agama, sekalian hikmat anugerah Ilahi Bila mereka berteriak-gila: "ilmu… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Kembali menggelora akan nestapa Biarlah tenggelam namun yakinku tak pernah berubah padamu Saat bulan tersenyum menegur sapa menampakkan diri saat hangat mulai… — silviamnque Copy Share Image
“Kata-kata di muka kertas beratnya hakiki Tersimpan khazanah Ilahi dan mutiara insani Jika digali-gilap disimpul makna dalam dada Jika diserap pada ribuan… — Wan Mohd Nor Wan Daud Copy Share Image
“Candi di Penghujung Ruh (Jenawi — Khajuraho) Tubuhku: batu yang merindu, belerang hitam tanpa tabuhan. Jenawi menggerus diriku kersani yang tak beriba,… — Titon Rahmawan Copy Share Image
“ZOMBIE.exe — [SYSTEM OVERLOAD] [BOOTING...] Memory check: corrupted. Signal: unstable. Language: infected. — “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi — “—Kami tidak bertanggung… — Titon Rahmawan Copy Share Image
“Dua dekad kemudian kubuka pintu kalbuku kata-kata puitisku bertukar jadi debu.” — Ridzuan Harun Copy Share Image
“Senja yang retak. Kapalkapal berlayar membawa kenangan. Airmatamu menjelma puisi paling duri, paling angin.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Butiran gula larut dalam kopi hitam Taburan bintang larut dalam kelam malam Pahit manis kenangan teraduk Kuhirup semalam suntuk” — Sam Haidy Copy Share Image
“Mungkin seseorang masih tak tahu lirih perih dalam rintik rindu ini. Selamat malam, kamu yg berlalu dalam gerimis.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Tak penting kau mengerti atau tidak, tapi puisi adalah caraku membingkaimu dalam sunyi.” — Helvy Tiana Rosa Copy Share Image
“Nada-nadamu berdenting Menjemput kata-kataku dari hening Bulan dan bintang perlahan terpejam Kau dan aku menidurkan malam” — Sam Haidy Copy Share Image