“Lalu, muka Narso yang berlabuh di lehernya itu menundukkan dalam penyerahan dan pejam mata. Waktu itu apa lagi yang akan dikerjakannya lain daripada itu. Ia tak berdaya apa-apa. Ia bertindak atas naluri dan detak jantungnya. Sesuatu yang telah ia bawa… — W.S. Rendra Copy Share Image
“Katakanlah: apa duka, apa ria, apa nestapa, apa jenaka, apa iseng, apa segala. Bagaimanapun, mereka ada, bernapas, dan hidup juga.” — W.S. Rendra Copy Share Image
“Allah! Betapa indahnya sepiring nasi panas Semangkuk sup dan segelas kopi hitam” — W.S. Rendra Copy Share Image
“Lalu, muka Narso yang berlabuh di lehernya itu menundukkan dalam penyerahan dan pejam mata. Waktu itu apa lagi yang akan dikerjakannya lain daripada itu.… — W.S. Rendra Copy Share Image
“Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair – penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi disampingnya. Dan delapan juta kanak… — W.S. Rendra Copy Share Image
“Katakanlah: apa duka, apa ria, apa nestapa, apa jenaka, apa iseng, apa segala. Bagaimanapun, mereka ada, bernapas, dan hidup juga.” — W.S. Rendra Copy Share Image
“Cintamu padaku tak pernah kusangsikan, Tapi cinta cuma nomor dua. Nomor satu carilah keselamatan.” — W.S. Rendra Copy Share Image