“Tak ada yang lebih baik daripada persahabatan yang ikhlas,” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“tetapi berbahagialah orang yang kuat menderita segala kesengsaraan untuk keperluan nusa dan bangsa” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Teror merupakan sistem untuk menundukan rakyat, sedang kerakusan berlebihan menjadi tujuan dari pendudukan itu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Sejak zaman kompeni, Aceh punya keberanian individu, Jawa punya keberanian kelompok. Beda sekali.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Adat itu bikin orang jadi bodo. Adat larang orang kampung belajar menulis, membaca, bikin gambar.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kalau ahli hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kau biarkan suamiku merampas istri orang; itu berarti kau ikut membangunkan kejahatan, kerusuhan, dan malapetaka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Bagi wanita muda, Mas Nganten, sebenarnya tak ada kesulitan hidup di dunia, apalagi kalau ia canti, dan rodi sudah tak ada lagi.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Mengapa membuka ladang sejauh ini? Kalau deka(t) kampon(g) habis dimakan(g) babi sendiri. Di sini babi hutan(g) yang ditunggu. Orang kampon(g) bikin ladan(g)… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu bagaimana sebaiknya menerima tamu. Ia akan mengambil celana untuk menghormati kami. (Orang-orang gunung ito bodo,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Di atas pelupuh humatita orang damai dalam tidurnya, suami-istri berpelukan, anak-anak berserak tanpa baju tanpa celana. Hanya asap dan asap selimut mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Negeri Matahari Terbit, negeri Kaisar Meiji itu berseru pada para perantaunya, menganjurkan: Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapa pun!… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Persaudaraan yang diikat oleh sesuatu. Dengan ikatan itu mereka saling menjaga, saling membantu bila ada keperluan, merupakan saudara seperti satu keluarga sendiri,… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ibu bapak tani—ibu bapak tanah air—akan meratapi putera-puterinya yang terkubur dalam udara terbuka di atas rumput hijau, di bawah naungan langit biru… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Seluruh kedudukan enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi. Rencana-rencanaku kandas di laci-laci. Angkatan tua itu sungguh bobrok! Setiap republiken mestinya… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Ada diajarkan oleh kaum Brahmana, orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Masa lalu tak perlu jadi beban, bila tak sudi jadi pembantu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Perempuan itu harta, musti turut lelaki punya mau - Siti F. Yang Ditemui Di Pulau Buru” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Mas, kan kita pernah berbahagia bersama ?" "Tentu, Ann." "Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share Image
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Ruapanya orang gunung hanya bercawat setiap hari. Mereka baru berpakaian bila ada tamu atau pada kesempatan-kesempatan terentu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“How simple life is. It's as simple as this: you're hungry and you eat, you're full and you shit. Between eating and shitting, that's… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
The fracture of pencil still useful, but the fracture of soul, we couldn't use it, Mister. — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Fina bara kurang ajar sama Ngama. Jangan kurang ajar sama Ngama. Hormati suamimu.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“. . . Kau terpelajar, Minke, Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. . . .” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“As hard as my life has been I have no desire for revenge. If I wish for anything it is for all the things… — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Kita akan belajar Tanca. Kemudian kita akan tahu lebih banyak, mengalahkan lebih gemilang.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share
“Kami bermaksud baik Ngama. Ngama adat jangan sangsi. Kami ingin menolong yang sakit.” — Pramoedya Ananta Toer Copy Share